Membedah Akar Jaringan Teroris al Qaidah 02

Pemikiran Dan Perbuatan Keji Jaringan al-Qaidah

1- Pengkafiran, Pemberontakan Serta Pembunuhan

Usamah bin Laden berkata: “Ketahuilah! Para mujahiddin di negeri al-Haramain asy-Syarifain (Saudi Arabia) mereka belum memulai perang mereka dengan pemerintah[23]. Jika mereka mau memulai maka mereka akan mulai dari pemimpin kaum kafir, yaitu penguasa Riyadh (Saudi Arabia).” [Lihat: al-Qaidah at-Tandzim as-Sirri, hal. 183-184 oleh Abdul Bari’ Athwan]

Aiman azh-Zhawahiri mengatakan: “Di antara gambaran jihad yang fardhu ‘ain pada saat sekarang adalah jihad melawan pemimpin-pemimpin murtad yang berhukum dengan selain syariat Islam, yang berwala’ (loyalitas) terhadap Yahudi dan Nashara.” [al Wala wal Bara’, hal.18 oleh Aiman azh-Zhawahiri]

(Dari sini kita ketahui) penyebab takfir jaringan al-Qaidah terhadap penguasa ada dua, sebagaimana yang telah diakui sendiri oleh pemimpinnya di atas:

1-     Karena berhukum dengan undang-undang buatan manusia

2-     Berwala’ kepada musuh-musuh Islam

Adapun yang pertama, maka ini adalah masalah yang butuh ketelitian dan ini masalah yang urgen. Permasalahan yang membutuhkan pondasi dan perincian yang tidak difahami oleh Usamah bin Laden dan para pengikutnya dari takfiriyin yang bodoh. Oleh karena itu, dia pun seenaknya berbicara dalam masalah ini hingga sesat dengan kesesatan yang jauh serta merusak dengan kerusakan yang nyata. Dia pun sembarangan mengkafirkan penguasa kaum muslimin dan menganggap negeri-negeri  mereka sebagai negeri kafir dan jahiliyah.[24]

Adapun masalah berloyalitas kepada orang-orang kafir, ini adalah masalah yang (juga) butuh ketelitian. Dan hukum dalam masalah ini (sebenarnya) sudah jelas dalam pandangan Ahlus sunnah wal jama’ah sejak dahulu hingga sekarang. Akan tetapi pemimpin al-Qaidah ini karena kejahilannya terhadap manhaj salah dan kaidah-kaidah mereka, maka dia pun mencampuradukan antara at-tawalli dengan muwalah kepada orang kafir. Dan dia jahil terhadap macam-macam muwalah dan menyamaratakan hukumnya, yaitu kafir kaluar dari Islam.

Padahal ulama salah Ahlussunnah wal jama’ah memperinci dalam masalah ini:

1- Tawallai kepada orang kafir adalah mengikuti dan menolong agama mereka atas kaum muslimin secara lahir dan bathin. Dan ukuran tawallai adalah mengikuti dan ridha dengan agama mereka. Dan tawallai seperti ini hukumnya kufur besar mengeluarkan dari Islam. Hal ini sebagaiman Allah azza wa jalla firmankan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [QS.al-Maidah:51]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata tentang ayat diatas: “Sesungguhnya barangsiapa yang berloyalitas kepada orang-orang Yahudi dan Nashara dan menolong mereka atas kaum muslimin, maka dia termasuk pengikut agama mereka. Karena tidaklah seseorang itu loyal kepada seseorang kecuali dia ridha dengan agamanya. Dan apabila dia meridhainya dan ridha dengan agamanya[25] maka dia akan memusuhi serta menyelisihinya serta memurkainya, hingga dia pun masuk dalam bagiannya.” [Jami’ al-Bayan 4/374-375]

2-  Muwalah kepada orang kafir adalah mencintai dan menolong mereka karena urusan dunia (secara lahir dan bathin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Terkadang seseorang itu mencintai orang-orang kafir dikarenakan tali kekerabatan atau suatu kebutuhan (duniawi). Maka muwalah seperti ini merupakah dosa yang dapat mengurangi keimanan, namun tidak sampai menjadikan orang itu kafir (murtad). Sebagaimana hal ini dialami oleh Hathib bin Abi  Balta’ah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum musyrikin dan Allah pun menurunkan ayat al-Qur’an tentangnya: [QS.al-Mumtahanah:1]” [Majmu’ Fatawa 7/522-523]

3- Muwalah kepada orang kafir disebabkan rasa takut kepada (kejahatan/penindasan) mereka (secara lahir bukan dengan bathin), maka hal ini hukumnya dibolehkan. Allah berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa  berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” [QS.Ali Imran:28]

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Di dalam ayat ini terdapat dalil akan bolehnya loyal kepada orang-orang kafir karena takut kepada mereka, namun secara dzahir saja bukan dengan batin.” [Fathu al-Qadir 1/231]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang takut kepada kejahatan orang kafir di sebagian  tempat dan waktu, maka boleh dia takut kepada mereka secara dzahir tidak dengan batinnya. Sebagaimana hal ini dikisahkan  oleh Imam Bukhari dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau pernah berkata: “Sesungguhnya kamu dahulu tersenyum kepada sebagian orang sedangkan hati kami melaknatnya.” [Tafsir al-Qur’ani al-Adzim]

2- Peledakan Dan Pembantaian di Negeri Kaum Muslimin

Usamah bin Laden mengatakan: “Kami telah mendorong umat untuk memberontak kepada musuh yang merampas negeri al Haramain (Pemerintah Saudi Arabia), maka di antara para pemuda ada yang memenuhi ajakan kami, di antara mereka adalah Khalid as-Sa’iid, Abdul Aziz al-Ma’tsam, Riyadh al-Hajiri dan Mushlih al-Asymarania [26]. Kami memohon kepada Allah agar menerima mereka sebagai syuhada’….” [Lihat: Tabdiid Kawaasyif al-‘Aniid, Hal.77-78 oleh Syaikh Abdul Aziz al-Rayyis]

Inilah ucapan pemimpin al-Qaidah terhadap perbuatan keji ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: “Sesungguhnya yang meledakkan diri di kerumunan massa dan menganggap hal itu sebagai jihad fii sabilillah, pada hakikatnya mereka lebih banyak mencoreng nama Islam dan kaum muslimin daripada memperbaiki. Mereka semakin menambah buruk nama Islam di kalangan barat dan selain mereka. Apa yang mereka hasilkan?! Apakah orang kafir lalu masuk Islam (dengan perbuatan mereka tersebut) atau semakin mereka lari dari Islam?! ….Islam berlepas diri dari perbuatan mereka….bahkan setelah ada kewajiban jihad tidak pernah para sahabat masuk kekerumunan orang kafir dan membantai mereka melainkan dengan jihad yang di bawah bendera seorang pemimpin (khalifah) yang mampu untuk menegakkan jihad…” [Dari transkrip ceramah beliau Syarh Ushul at-Tafsir]

Di antara korban peledakan-peledakan yang dilakukan oleh para teroris di negeri-negeri kaum muslimin ada empat golongan:

1- Kaum Muslimin [27].

2- Musta’manun, yaitu setiap orang kafir yang masuk ke begeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan  dari seorang muslim atau dari pemerintah kaum muslimin (seperti diplomat, turis asing, pekerja asing dll [28].

3- Mu’ahadun, yaitu setiap orang kafir yang negaranya menjalin perjanjian damai dengan Negara kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membunuh kafir Mu’ahad dia tidak akan mencium bau surga.” [HR.Bukhari]

4- Ahlu Dzimmah, yaitu setiap orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin dan diperlakukan hukum Islam terhadapnya secara umum. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membunuh ahli dzimmah maka dia tidak mencium bau surga.” [HR.an-Nasa’i]

3- Khianat Dan Berbuat Curang Dengan Nama Islam dan Jihad

Di antara bentuk kecurangan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh jaringan al-Qaidah adalah dengan membunuh ahlu dzimmah, mu’ahad, mustaman serta membatalkan perjanjian dengan selain mereka.

Dikisahkan bahwa antara Mu’awiyah dan orang-orang kafir Romawi terjadi perjanjian damai. Dan beliau (mulai) berjalan di negeri mereka hingga apabila selesai perjanjian damai maka beliau langsung akan menyerang mereka. Tiba-tiba ada seseorang yang berada di atas kendaraan atau di atas kuda mengatakan: “Allahu Akbar..Allahu Akbar, tepati (perjanjian) dan jangan berbuat curang, dan orang tersebut adalah Amru bin ‘Abasah radhiyallahu ‘anhu. Maka Mu’awiyah pun bertanya tentang hal tersebut. Amru bin ‘Abasah berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa antara dia dan sekelompok manusia terjalin perjanjian maka jangan dia membatalkannya dan jangan melampaui batasannya sampai selesai batas waktunya atau dibatalkan perjanjian tersebut.” Maka Mu’awiyah pun kembali bersama pasukannya.” [HR.Tirmidzi]

Orang yang merenungkan kejadian ini akan mendapati bahwa Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu  (secara sepintas) tidak membatalkan perjanjian dengan Romawi. Akan tetapi beliau hanya akan memerangi mereka jika telah selesai waktu perjanjian. Oleh sebab itu, darimana sisi pengingkaran ‘Amru bin ‘Abasah radhiyallahu ‘anhu terhadap Mu’awiyah?! Jawabnya: Bahwa Mu’awiyah (telah merencanakan) pergi ke Romawi untuk memerangi mereka sebelum batas waktu perjanjian selesai. Padahal secara asal tidak boleh beliau merencanakan untuk memerangi mereka hingga selesainya perjanjian yang telah disepakati. ‘Amru bin ‘Abasah  menganggap hal tersebut sebagai bentuk kecurangan dan pengkhianatan terhadap perjanjian tersebut.

Lihatlah –semoga Allah merahmati anda- kepada tingkat ketundukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana  mereka berhenti ketika ada nash, mereka tidak mendahulukan semangat yang membara untuk menyelisihi nash [29].  Sebagaimana  keadaan kebanyakan orang-orang jahil dan harakiyyin pada zaman ini. Tidaklah Mu’awiyah mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan beliau langsung tunduk patuh kepadanya dan kembali dengan pasukan beliau. Padahal mereka mampu untuk memerangi musuh mereka dan mengalahkan mereka.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Apabila seorang imam membuat perjanjian dengan sebuah kaum, maka tidak boleh baginya untuk merencanakan (memerangi) mereka sebelum habis waktu perjanjian lalu turun ke tempat mereka, hingga selesainya waktu perjanjian maka diperbolehkan untuk menyerang mereka.” [Syarhu as-Sunnah 11/166]

Imam asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila sekelompok dari kaum muslimin masuk ke Negara kafir dengan jaminan keamanan dari mereka. Maka musuh (orang kafir) aman dari kaum muslimin  tersebut sampai mereka (kaum muslimin) meninggalkan mereka atau telah selesai waktu perjanjian tersebut dan tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menzhalimi mereka ataupun mengkhianati mereka [30]…” [Kitab al-Umm, 5/606 bab “al-Musta’min fi Daari al-Harb” oleh Imam asy Syafi’i]

Imam Abu Muhammad Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ucapan al-Khiraqi, “Barangsiapa yang masuk ketempat musuh dengan jaminan keamanan, maka dia tidak boleh mengkhianati mereka dalam harta mereka dan tidak boleh bermuamalah dengan mereka dengan riba”: “…Adapun mengkhianati mereka maka ini diharamkan, karena mereka telah memberikannya jaminan kemanan dengan syarat agar dia tidak mengkhianati mereka dan juga memberikan keamanan kepada mereka. Meskipun hal tersebut tidak tertulis namun itu sudah dimaklumi. Oleh karena itu, barangsiapa diantara mereka yang datang kepada kita dengan jaminan keamanan kemudian dia mengkhianati kita maka dia telah membatalkan perjanjiannya. Maka jika demikian, tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkhianati mereka, karena ini adalah bentuk kecurangan dan hal ini dilarang di dalam agama kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kaum muslimin tergantung syarat mereka.” [al Mughni, 13/152-153]

Hubungan Rahasia Lagi Harmonis Antara al-Qaidah Dengan Negara Syiah (Iran) [31]

Ini adalah fakta yang tidak bisa diragukan lagi dan merupakan suatu yang amat berbahaya. Dan ini juga menjelaskan kepada kita bahwa jaringan al-Qaidah menganut kaidah Yahudi yang menyatakan bahwa “Tujuan menghalalkan segala cara”.

Para pemimpin al-Qaidah selalu siap untuk bekerjasama dengan semua pihak meskipun dengan setan untuk menggapai tujuan mereka dalam menghancurkan negeri kaum muslimin bahkan semua alam ini.

Dari kaidah Yahudi yang keji inilah terjalin hubungan harmonis antara jaringan al-Qaidah dan Negara Syiah Rafidhah (Iran). Berbagai bukti dan keterangan menguatkan akan hubungan ini dan tentang kesinambungannya.

Hubungan harmonis ini dibangun di atas kerjasama mutlak antara kedua belah pihak. Adapun bantuan jaringan al-Qaidah kepada (Syiah Iran) musuh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak diantaranya:

  1. Jaringan al-Qaidah banyak membunuh ahlussunnah di Iraq khususnya Salafiyyin yang banyak mengungkap tentang bahaya Syiah Iran.
  2. Melakukan aksi-aksi peledakan di Iraq untuk mengalihkan perhatian Amerika (dunia) dari bom atom Iran.
  3. Aksi penculikan  terhadap par penentang Negara Syiah Iran dengan perintah langsung dari pemerintah Iran.
  4. Kedutaan-kedutaan Negara arab di Iraq ditutup dikarenakan banyaknya pembunuhan terhadap para pegawainya oleh anggota al-Qaidah. Akan tetapi ketika anggota al-Qaidah menanggap konsulat Iran, mereka mengembalikannya kepada Iran.

Adapun bantuan Syiah Iran kepada Jaringan al-Qaidah, di antaranya:

  1. Terdapat markas rahasia untuk pelatihan anggota al-Qaidah di Iran, di kota Khurasan di dekat perbatasan dengan Afhganistan
  2. Markas tersebut menampung 1500 pasukan (al-Qaidah) yang dilatih dengan pelatihan militer yang canggih.
  3. Di antara para pengawas latihan tersebut adalah para intelejen Iran beserta anggota al-Qaidah
  4. Ada 18 markas pelatihan bagi anggota al-Qaidah di Iran
  5. Pemberian senjata berat oleh Iran kepada anggota al-Qaidah khususnya di Iraq
  6. Pertemuan (persahabatan) antara anggota al-Qaidah dengan para tokoh (Syiah) Hizbullah di Iran.
  7. Keberadaan tokoh-tokoh al-Qaidah yang tinggal di Iran (Sa’ad bin Laden putra Usamah bin Laden, Saif al-Adl al-Mesri, Sulaiman Abu al-Ghaits)
  8. Tim pencari fakta tragedi 11 September menyatakan bahwa Iran mempermudah gerak anggota jaringan al-Qaidah untuk melakukan aksi teroris tersebut.
  9. Pada tahun 2003M, pemerintah Yordania mengumumkan secara resmi bahwa Iran menolak untuk menyerahkan Abu Mush’ab az-Zarqawi[32] yang berada dalam lindungan pemerintah Teheran sejak tahun 2002M
  10. Setelah Abu Mush’ab az-Zarqawi terluka akibat serangan Amerika di Afghanistan, dia mendapatkan tempat perlindungan di Iran di kota Masyhad dan dia mendapatkan perawatan di sana. Intelejen Yordania menyatakan bahwa para pengikut az-Zarqawi (anggota al-Qaidah) mereka berada di Iran pada tahun 2003M. [33]

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk menapaki jejak salafush shalih dan menjauhkan kita dari terorisme dan pemikiran-pemikiran sesat. Sesungguhnya Allah satu-satunya pelindung dan pemberi hidayah kita. Amiin.

————————————————

Footnote:

[23] Padahal sudah berapa nyawa yang melayang akibat terorisme di sana?! Usamah masih mengatakan belum memulai perang..Inna Lillahi wa Inna ilaihi roji’un.

[24] Imam Ibnul Qoyyim rahimahulla berkata: “Adapun kekafiran itu ada dua macam: Kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar mengharuskan pelakunya kekal di dalam neraka. Kufur kecil pelakunya berhak mendapat hukuman  meski tidak kekal….Dan ini adalah penafsiran Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu serta kebanyakan sahabat tentang firman Allah: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [QS.al-Maidah:44]

Abdullah bin Abbas mengatakan: “(Yaitu) Kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam. Jika orang itu melakukannya, itu suatu kekufuran tapi bukan seperti orang yang kafir kepada Allah dan hari akhir.” Demikian pula yang dikatakan oleh Thowus. Atho’ berkata: “Kufrun duuna kufrin (kufur kecil), dzulmun duuna dzulmin (kezhaliman kecil), fisqun duuna fisqin (fasik kecil).”….Yang benar bahwa berhukum dengan selain hukum Allah mencakup dua bentuk kekufuran, kufur kecil dan besar sesuai dengan keadaan orang tersebut. Apabila dia masih menyakini wajibnay berhukum dengan apa yang diturunkan Allah pada suatu kejadian dan dia menyimpang dari hukum Allah dalam keadaan maksiat beserta keyakinannya bahaw dia berhak mendapat sanksi maka ini kufur kecil. Tapi jika dia menyakini tidak wajibnya berhukum dengan hukum Allah, dan bahwasanya dia diberi pilihan sedang dia menyakini itu hukum Allah maka ini termasuk kufur besar. Tapi jika dia tidak tahu (hukum Allah) dan dia keliru maka hukumnya seperti hukum orang yang khilaf. Kesimpulannya: Semua maksiat termasuk kufur kecil…” Inilah perincian semua ulama Ahlussunnah yang diselisihi oleh Usamah bin Laden dan Aiman azh-Zhawahiri cs yang hobi mengobral vnis kafir kepada penguasa kaum muslimin secara mutlak.

[25] Tidak semua orang yang menolong atau meminta bantuan orang kafir itu ridha dengan agama orang kafir tersebut. Perhatikanlah hal ini wahai saudaraku, agar engkau selamat dari kesesatan Khawarij dan para teroris.

[26] Keempat pemuda tersebut adalah pelaku peledakan di tempat yang bernama Ulya di Saudi Arabia.

[27] Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya  ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [QS.an-Nisa’:93]

[28] Hukum membunuhnya diharamkan seperti kafir mu’ahad.

[29] Inilah rahasia kesuksesan para salaf dalam meraih kemenangan serta kejayaan dan ini pula salah satu sebab kekalahan kaum muslimin yang tersirat yaitu hanya bermodal semangat yang membara tanpa mengikuti sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berjihad. Dan dari kisah ini pula kita mengetahui bahwa bukan maksud ‘Amru bin Abasah menihilkan atau menggembosi jihad fii Sabilillah namun beliau hanya ingin meluruskan jihad agar bisa meraih kejayaan yang hakiki. Dan itulah yang dilakukan oleh Dakwah Salafiyah.

[30] Seperti kejadian peledakan di Negara-negara kafir yang dilakukan oleh para teroris yang berkedok mujahiddin.

[31] Ini juga yang pernah dilakukan oleh Hasan al-Banna, menjalin persatuann  dengan Syiah. Lihat pembahasannya ini dalah adz-Dzakiirah edisi 21.

[32] Dia adalah pemimpin al-Qaidah Iraq

[33] Referensi dalam masalah ini adalah kitab Ismi Usamah bin Laden oleh Rulan Jaakar, Kitab Abu Mush’ab az-Zarqawi oleh Jan Syaaraal, Kitab az-Zarqawi oleh Fuad Husein, kitab al-Qaidah at-Tanzhiim as-Sirri oleh Abdul Bari’ Athwaan dan Majalah al-‘Ashr tanggal 17/2/200

Oleh: Ustadz Abdurrahman Toyyib, Lc. –hafizhahullah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: