Membedah Akar Jaringan Teroris al Qaidah 01

Al Qaidah dengan pemimpinnya Usamah bin Laden adalah sebuah nama yang tidak asing di dunia international. Ketenarannya sebagai dalang terorisme, peledakan, pembunuhan dan penculikan terutama di Negara-negara Islam tidak diragukan lagi oleh kebanyakan orang. Meski demikian. Masih ada segelintir orang jahil yang mendukung jaringan amat berbahaya bagi Islam dan kaum muslimin ini. Atau ada pulang yang jahil [1] atau pura-pura tidak tahu bahwa jaringan inilah yang merupakan otak di balik aksi terorisme dengan kedok jihad, terutama di negeri-negeri kaum muslimin.

Oleh karenanya, marilah kita simak bersama apa yang ditorehkan oleh pena seorang penuntut ilmu dari Yordania yang bernama Abu Abdillah Umar bin Abdul Hamid al-Bathusy hafidzahullah, yang dengan panjang lebar membedah akar jaringan teroris al-Qaidah dengan bukti-bukti yang nyata dan dalil-dalil yang akurat dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Kasyfu al-Astaar ‘Amma Fii Tandziimi al-Qaidah Min Afkaari Wa Akhthaar” (Menyingkap tabir pemikirin dan bahaya jaringan al Qaidah). Namun, karena keterbatasan dalam majalah ini, maka kami pun berusaha untuk meringkas point-point penting di dalamnya dengan sedikit pengaturan redaksi yang insyaAllah tidak merubah makna dan maksud penulis.[2]

Dan mudah-mudah dengan taufiq-Nya dapat membuka mata hati manusia yang tertutup dan membungkam mulut-mulut berbisa yang terbiasa berdusta dan menuduh Dakwah Salafiyah atau dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai aksi terorisme modern.

———————————————————-

Footnote:

[1] Seperti Majalah Sabili

[2] Pemberian komentar dan footnote dari penerjemah

Sumber Radikalisme Dan Terorisme Dunia

Sesungguhnya akar dan sumber inti dari pengkafiran, peledakan, fitnah, malapetaka dan tragedi menggenaskan yang dialami oleh kaum muslimin dan selain mereka pada zaman ini adalah pemikiran dan buku-buku karangan Sayyid Quthub.[3]

Dan di antara orang-orang yang terdidik dan terpengaruh dengan buku-buku yang berbahaya tersebut serta menjadi korbannya adalah para pemimpin jaringan al-Qaidah. Khususnya orang pertama dalam jaringan ini, yaitu Usamah bin Laden, dan orang keduanya Aiman azh-Zhawahiri yang amat terpengaruh dengan buku-buku berbahaya tersebut dan membelanya mati-matian.

Oleh karenanya, mereka sangat mengkultuskan buku-buku, manhaj dan pemikiran Sayyid Quthub –semoga Allah mengampuninya-.[4] Buku-buku tersebut merupakan referensi utama dalam kebid’ahan dan fitnah mereka yang telah memenuhi dunia saat ini.

Aiman azh-Zhawahiri berkata: “Sesungguhnya Sayyid Quthub dialah yang pertama kali meletakkan undang-undang Jihadiyyin (Teroris) dalam kitabnya yang bak dinamit, yaitu Ma’aalim Fii ath-Thariq. Dan sesungguhnya dialah  sumber inspirasi radikalisme. Dan bukunya al-‘Adaalah al-Ijtima’iyah fii al-Islam terhitung produk akal pemikiran yang paling berharga bagi para kelompok radikal. Pemikiran Sayyid merupakan cikal bakal bagi terciptanya revolusi Islam melawan musuh-musuhnya di dalam maupun luar. [5] Dan senantiasa pasal-pasalnya yang berdarah mengalami pembaharuan setiap saat.” [Harian asy-Syarqu al-Ausath edisi 8407 tertanggal 19/9/1422H]

Dan tidak kalah pula peran Muhammad Quthub sebagai saudara kandung Sayyid Quthub dalam menularkan virus terorisme ke dalam diri usamah bin Laden. Ini semua karena Usamah pernah berguru dengan Muhammad Quthub dan sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran takfir[6] dan Khawarijnya serta system harakahnya, yang tidak bisa diragukan lagi. Awal kali perjumpaan antara guru dan murid ini, ketika Usamah belajar di fakultas ekonomi dan manajemen [7] Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah Saudi Arabia.

Pada waktu bersamaan Muhammad Quthub menjadi dosen di universitas tersebut, dia pun bertemu dengannya. Kemudian setelah itu berjalanlah pertemuan demu pertemuan antara keduanya dan mulailah terjadi penyimpangan pemikiran dalam diri pemimpin al-Qaidah ini.

Muhammad Quthub mengajarkan aqidah yang menyimpang dari aqidah salafush shalih, khususnya dalam masalah takfir, tauhid hakimiyah (berhukum dengan hukum Allah), masalah al wala’ (loyalitas) dan al-barra’ (permusuhan) serta bersikap kepada penguasa muslim dan lain-lain.

Kesimpulannya, Muhammad Quthub merupakan ustadz pertama bagi pemimpin al Qaidah dan menancapkan pemikiran serta manhaj (sesat) kepadanya.

Di antara yang menunjukkan akan pengaruh kuat Muhammad Quthub dalam diri Usamah bin Laden adalah munculnya penamaan jaringan ini dengan nama “al Qaidah” yang bermarkas di Afhganistan. Hal ini dikarenakan Muhammad Quthub sering kali menyebutkan nama al-Qaidah dalam buku karangannya yang sangat berbahaya dan jelek Waaqi’una al-Mu’aashir.

Bahkan dalam satu pasal saja yang berjudul “Manhaj al Harakah” dai menyebutkan nama al-Qaidah lebih dari 40 kali. Maka sang murid yang setia ini pun terinpirasi dari sang guru dalam menamai jaringan terorisnya ini.

Pemikiran Sesat Sayyid Quthub

1- Pengkafiran Kaum Muslimin Secara Menyeluruh

Sayyid Quthub berkata: “Masuk dalam kategori masyarakat jahiliyyah aalah masyarakat yang mengaku bagi dirinya sebagai masyarakat muslim. Masyarakat seperti ini tidak termasuk dalam kategori masyarakat Islam..”. [Ma’aalim Fi ath-Thariq, hal.101-103]

Dia juga berkata: “Keberadaan umat Islam telah terputus sejak berabad-abad lamanya.” [Ma’aalim Fi ath-Thariq, hal.8]

Inilah ucapan Sayyid dalam kitabnya Ma’aalim fi ath-Thoriq yang dikultuskan oleh Aiman azh-Zhawahiri dan dia katakan bahwa buku-buku tersebut merupakan undang-undang bagi jihadiyyin serta disifatinya dengan dinamit.

Memang benar, inilah undang-undang jaringan al Qaidah: pengkafiran kepada masyarakat kaum muslimin secara menyeluruh.[8]

2- Peledakan, pengrusakan, penculikan dan gerakan bawah tanah

Sayyid Quthub berkata: “Kita dahulu telah sepakat untuk tidak menggunakan kekuatan sebagai sarana untuk merubah system pemerintahan atau untuk mendirikan hukum Islam. Akan tetapi, dalam waktu bersamaan kita telah mengikrarkan untuk memakai kekuatan ketika ada penindasan  terhadap jaringan ini, yang berjalan di atas metode pengajaran aqidah, pendidikan masyarakat[9], dan penegakan aqidah bagi Islam dalam masyarakat. Dan makna semua ini adalah: pembahasan tentang pelatihan (militer) sekelompok orang yang akan melawan penindasan dan melakukan perlindungan terhadap jaringan ini. Demikian juga pembahasan tentang senjata dan harta yang dibutuhkan untuk kepentingan tersebut. Adapun pelatihan…telah disepakati dalam mempercepat pelatihan mereka, karena jika terbatas pada teori belaka tanpa adanya pelatihan dan persiapan (militer), dikhawatirkan akan merasuk rasa bosan ke dalam diri para pemuda.” [Limaadza A’damuuni hal.49-50]

Inilah yang dikatakan oleh Sayyid Quthub dan diakuinya tentang gerakan bawah tanagnya [10], persiapan senajta dan pengamannya, serta pelatihan (militer) bagi pemuda yang bergejolak untuk menggunakannya demi membela jaringan yang bid’ah ini. Kemudian melakukan kejahatan (terorisme) kepada kaum muslimin dengan berkedok Islam dan membelanya.

Inilah fakta yang ada pada kelompok-kelompok takfir, teroris dan harakah. Khusunya jaringan teroris al-Qaidah yang sesat, yang merupakan murid setia bagi pemikiran dan manhaj Sayyid Quthub.

Sayyid Quthub berkata: “Adapun masalah persenjataan, maka pembahasan ini ada dua sisi: Pertama: mereka memberitahuku –dan  yang menjadi juru bicara dalam masalah ini adalah Majdi- bahwa lantaran sulitnya memperoleh perbekalan  untuk pelatihan (militer), maka mereka berusaha untuk membuat bom rakitan. Dan percobaan demu percobaan telah sukses, maka dibuatlah beberapa bom. Akan tetapi masih butuh perbaikan dan percobaan yang terus menerus. Kedua: Bahwa Ali Asymawi menjengukku tanpa janji terlebih dahulu. Dan dia memberitahuku bahwa sekitar dua tahun sebelum perjumpaan kami, dia meminta beberapa senjata yang telah ditentukan spesifikasinya dari seseorang di salah satu Negara arab, kemudian dibiarkan waktu berjalan. Dan sekarang datang kabar senjata-senjata tersebut telah dikirim dalam jumlah yang banyak, sekitar dua gerobak dan akan dikirim lewat Sudan dan akan sampai kira-kira dua bulan.” [Limaadza A’damuuni hal.50-52]

Lihatlah apa yang diperbuat para teroris yang membua senjata-senjata, bahan peledak dan bom tersebut? Hasilnya adalah seorang teroris yang jahil mengikatkan bom rakitan di badannya dan meledakkan dirinya sendiri hingga dia membunuh dirinya, kaum muslimin dan orang-orang kafir yang tidak berhak dibunuh (seperti mu’ahadin dan musta’manin) [11], menghancurkan dan merusak dengan nama jihad dan Islam yang lurus ini..!!!

Dan inilah keadaan jaringan al-Qaidah yang di antara aksi terorismenya adalah peledakan yang berdosa di negeri Amman yang tercinta, yang memakan korban kaum muslimin; anak-anak kecil, kaum wanita dan orang-orang yang tidak bersalah serta selain mereka dari musta’manin, mu’ahadin dan musaalimin.

Sayyid Quthub juga berkata: “Yang aku katakana kepada mereka : “Sesungguhnya apabila kita ingin membalas penindasan ini jika terjadi, maka wajib dengan pukulan yang mematikan dan dengannya terjamin keselamatan mayoritas para pemuda muslim (Ikhwanul Muslimin) [12]. Oleh karena itu, dalam pertemuan berikutnya dengan Ahmad Abdul Majid, mereka membawa daftar usulan aktivitas yang dapat melumpuhkan fasilitas pemerintahan agar tidak dapat melakukan pengejaran terhadap anggota Ikhwanul (Muslimin) ketika terjadinya penangkapan terhadap mereka, seperti yang terjadi pada waktu-waktu yang lalu. Aktivitas ini sebagai aksi pembalasan terhadap penangkapan anggota jaringan dengan mengingkirkan para pemimpin, terutama presiden, ketua MPR, ketua intelejen, dan ketua polisi. Kemudian dengan menghancurkan sebagian fasilitas umum yang dapat melumpuhkan sarana transportasi di Kairo agar mereka tidak dapat melakukan pengejaran terhadap anggota jaringan Ikhwanul (Muslimin) yang lain. Dan juga, fasilitas umum yang ada di luar Kairo seperti pusat listrik dan jembatan laying..” [Limaadza A’damuuni hal.55-56]

Inilah manhaj, pemikiran dan perbuatan Sayyid Quthub yang merupakan biang keladi pengkafiran, peledakan, perusakan, pembuatan bom teroris, penculikan terhadap para pemimpin dan penghancuran fasilitas umum. Dan perbuatan keji ini diikuti oleh jaringan teroris al Qaidah yang telah berlumuran darah kaum muslimin di Negara-negara Islam.[13]

3- Seruan Kudeta

Sayyid Quthub mengatakan: “Mungkin telah jelas bagi anda bahwa tujuan utama jihad dalam Islam [14] adalah menghancurkan system yang bertentangan dengannya serta mendirikan system pemerintahan yang didasari kaidah-kaidah Islam. Dan ini adalah tujuan kudeta Islami [15] yang umum, tidak terbatas dalam satu wilayah saja. Bahkan di antara hal yang diinginkan oleh Islam dan selalu di perhatikan adalah terjadinya kudeta yang menyeluruh di semua penjuru negeri. Dan ini adalah tujuan yang agung dan cita-cita yang mulia.” [Fii Dzilaali al-Qur’an, 3/1451]

Dia juga mengatakan: “Orang yang beriman dengan suatu aqidah dan sitem –baik individu atau kelompok-, maka dia akan terbawa dengan tabiat aqidah dan imannya tersebut untuk berusaha menghancurkan system hukum yang berdiri di atas pemikiran yang berlawanan dengan pemikirannya.” [Fii Dzilaali al-Qur’an, 3/1451]

Ucapan Sayyid di atas sangat jelas dalam menyeru para pemuda dan kaum muslimin untuk memberontak dan mengkudeta pemerintah. Hal ini di anggapnya sebagai jihad yang wajib, dan ini pun diikuti oleh jaringan al-Qaidah yang menyeru para pemuda untuk memberontak.

Mereka (Sayyid Quthub cs.) telah merusak kebanyakan para pemuda muslim di negeri-negeri Islam yang memiliki semangat berapi-api namun jahil terhadap  agamanya [16], baik di Mesir, Syiria, Yordania, al-Jazair, Maroko, Saudi Arabia dan negeri-negeri Islam lainnya.

4- Pengkafiran terhadap Negara Islam dan jahil terhadap makna kalimat tauhid

Sayyid Quthub berkata: “Orang-orang yang tidak mengesakan Allah dalam hakimiyah (hukum) di segala tempat dan waktu mereka adalah kaum musyrikin. Dan tidak mengeluarkan  mereka dari kesyirikan ini keyakinan mereka tentang laa ilaha illallah, namun mereka tidak menunjukkan syiar-syiar untuk Allah.” [Fii Dzilali al-Qur’an, 3/1492]

Dia juga berkata “Tidak ada di atas bumi ini Negara Islam dan masyarakat muslim. Kaidah ini bermuamalat di dalamnya adalah syariat Allah dan fiqih Islam.” [Fii Dzilaali al-Qur’an, 4/2122]

Dia juga berkata: “Kalimat laa ilaha illallah, telah difahami oleh seorang arab yang faham makna bahasanya dengan ‘Tidak ada hukum kecuali bagi Allah’.[Fii Dzilali al-Qur’an, 2/1006]

Dalam ucapan-ucapannya ini Sayyid Quthub dengan kejahilannya menjadikan hakimiyah sebagai tauhid[17] yang tidak mungkin Islam ada kecuali dengan mewujudkannya dan dia juga menampakkan kebodohannya terhadap makna tauhid uluhiyah dan rububiyah.

Sayyid Quthub berkata: “Yang paling khusus dari tauhid uluhiyah adalah rububiyah, kepemimpinan, kekuasaan dan hakimiyah.” [Fii Dzilali al-Qur’an, 4/1825]

Dia juga mengatakan: “Tauhid uluhiyah bukan merupakan bahan perselisihan antara (para rasul & kaum mereka), akan tetapi tauhid rububiyahlah yang dihadapi para rasul, khususnya Nabi yang terakhir.” [Fii Dzilali al-Qur’an, 3/1846]

Ucapan ini menunjukkan akan kebodohan Sayyid terhadap kandungan al-Qur’an, hakikat dakwah para rasul serta hakikat tauhid uluhiyah [18]. Dan di dalam ucapan di atas juga terdapat pencampuradukan antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah. Dan maksud dari pencampuradukan antara keduanya serta kebodohan dan penyamaran tersebut adalah menggantikan tauhid uluhiyah (yang merupakan prioritas dakwah para nabi) dengan tauhid hakimiyah (yang selali dijadikan senjata oleh kaum Khawarij) untuk mengkafirkan pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin)

5- Celaan Sayyid kepada para ulama

Sayyid berkata: “Sesungguhnya aktivitas dalam medan pemikiran untuk fiqih Islami adalah amalan yang menguntungkan!! Karena tidak ada resiko didalamnya, akan tetapi itu bukan amalan untuk Islam dan tidak termasuk metode agama ini serta bukan tabiatnya. Lebih baik bagi orang yang menginginkan kesenangan dan keselamatan untuk menyibukkan diri dengan sastra, kesenian atau bisnis. Adapun menyibukkan diri dengan fiqih sekarang dengan mengatasnamakannya untuk Islam, maka aku kita –wallahu a’lam- itu hanyalah menyia-nyiakan waktu dan pahala, selama manusia masih dalam kejahiliyahan menyembah pemimpin mereka.” [Fii Dzilali al-Qur’an, 4/2012]

Di dalam ucapan Sayyid di atas terdapat celaan Sayyid yang keji terhadap para ulama. Dikira oleh Sayyid bahwa para ulama tersebut tidak mau bersusah payah dalam menegakkan Islam, mereka hanya ingin bersantai ria. Sayyid menuduh bahwa para ulama adalah apra pengecut hanya menginginkan keselamatan, (tidak mau resiko perjuangan). Dan Sayyid juga, sadar atau tidak sadar, telah meremehkan ilmu agama dan fiqih tentang hukum-hukum Allah serta syariat-Nya yang mulia. Sekaligus dia telah menjauhkan umat –khususnya para pemuda- dari belajar ilmu agama ini beserta para ulamanya.[19]

Kesesatan Muhammad Quthub

1- Salah mengartikan kalimat tauhdi Laa ilaha illallah.

Muhammad Quthub mengatakan ketika menjelaskan makna Laa ilaha illallah: “Maknanya adalah tidak ada sesembahan kecuali Allah dan tidak ada hakim (yang menghukumi) kecuali Allah.” [Haula Tathbiiqi asy-Syariah, hal.20]

Ucapan yang bathil di atas ini menunjukkan kejahilan Muhammad Quthub tentang hakikat tauhid yang murni kepada Allah. Ucapan tersebut menyelisihi ucapan Ahlussunnah wal Jama’ah. Menafsirkan Laa ilaha illallah dengan “Tidak ada sesembahan kecuali Allah” merupakan penafsiran yang batil, karena sesembahan selain Allah amat banyak. Akan tetapi mereka semua disembah dengan batil bukan dengan yang haq. Oleh karena itu, tafsir yang benar bagi kalimat tauhid Laa ilaha illallah adalah tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Demikianlah penafsiran Ahlussunnah wal Jama’ah sejak dahulu hingga sekarang. Dan itulah yang dibenarkan dalam al-Qur’an. Firman-Nya:

“Demikianlah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil; sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [QS.Luqman:30]

Adapun tentang penafsiran Muhammad Quthub dengan ucapannya “Tidak ada hakim kecuali Allah”, maka simaklah ucapan Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berikut ini: “Pada saat ini ada orang yang menafsirkan Laa ilaha illallah dengan mengesakan Allah dalam hukum. Ini adalah penafsiran yang salah, karena masalah hukum itu hanyalah bagian dari makna Laa ilaha illallah, bukan inti dari makna kalimat yang agung tersebut.

Akan tetapi makna yang benar adalah “Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah” dengan berbagai macam bentuk ibadah. Termasuk di dalamnya mentauhidkan Allah dalam masalah hukum. Seandainya menusia mencukupkan diri dengan tauhid hakimiyah tanpa melaksanakan bagian lain dari bentuk ibadah, maka mereka tidak termasuk  sebagai kaum muslimin. Oleh karena itulah, para pengikut pemikiran ini (takfiriyyin, quthbiyin, harakiyin) [20], tidak melarang dari kesyirikan (seperti penyembahan terhadap wali-wali yang telah mati) dan tidak memperhatikannya. Bahkan mereka menamakannya dengan syirik biasa-biasa saja (tidak berbahaya).

Sesungguhnya syirik yang sebenarnya (kata mereka) adalah syirik dalam hakimiyah (syirik istana) yang mereka namakan dengan syirik politik. Oleh karenanya mereka memfokuskan dakwah kepadanya saja. Dan mereka mantafsirkan syirik dengan mentaati penguasa yang zhalim.” [Syarhu Kasyf asy-Syubhat hal.46]

2- Pengkafiran Terhadap Yang Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah Secara Mutlak

Muhammad Quthub mengatakan: “Islam tidak membedakan antara syiar-syiar ibadah dan penerapan aturan kemasyarakatan, ekonomi, politik social dan yang bercabang dari aqidah ini. Dan Islam tidak membedakan antara orang-orang yang melarang penerapan hukum-hukumnya sebagai orang-orang kafir secara nama maupun realita atau sebagai nama namun kafir secara realita. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [QS.al-Maidah 44] [Syubhaat Haula al-Islam hal.205]

Ucapan Muhammad Quthub di sini adalah bathil (menyelisihi ucapan para ulama salaf dan merupakan warisan kelompok Khawarij) [21]. Diantaranya, al Jashshash berkata: “Kelompok Khawarij mentakwilkan ayat ini (QS.al-Maidah 44) untuk mengkafirkan orang yang meninggalkan hukum Allah meskipun dia tidak mengingkarinya.” [Ahkamul al-Qur’an, 2/459]

3- Seruan Kudeta

Muhammad Quthub berkata: “Tidak akan mungkin kemungkaran di masyarakat ini terjadi dan penguasa meridhoinya  atau dia sebagai penyebabnya kecuali jika dia adalah pemimpin yang zhalim yang wajib untuk diperangi dalam rangka jihad di jalan Allah dan mengharapkan pahala dari Allah.” [Syubhaat Haula al-Islam hal.207]

Ucapan Muhammad Quthub ini adalah untuk meneruskan pemikiran Khawarij yang menyimpang dan untuk memprovokasi umat –khususnya para pemuda untuk kudeta/memberontak kepada penguasa kaum muslimin, menumpahkan darah, membunuh orang-orang yang tidak berdosa, menyalakan api fitnah, dan kekacauan di tengah-tengah kaum muslimin.[22]

Bersambung ke:

Membedah Akar Jaringan Teroris al Qaidah 02

—————————————————————-

Footnote:

[3] Inilah yang mungkin dikatakan oleh Pak Kyai al-Jaidi dalam Sabili no.14 hal.49 tentang jasa dan pengorbanan Sayyid Quthub untuk dinul Islam dan umat. Jasa dalam menanamkan radikalisme dan terorisme modern serta mengorbankan pemikiran dan darah para pemua serta kaum muslimin.

[4] Disini penulis mendoakan Sayyid Quthub dengan ampunan, ini membuktikan bagaimana sikap Ahlussunnah Dakwah Salafiyah yang tidak mudah mengkafirkan seorang muslim tanpa ilmu ataupun menvonisnya sebagai penghuni neraka bagaimanapun kesesatannya selama tidak ada dalil khusus tentangnya. Dan ini sekaligus sebagai bantahan kepada majalah Sabili yang menuduh tanpa bukti bahwa Dakwah Salafiyah mudah mengkafirkan dan menvonis dengan api neraka.

[5] Namun kenyataan di lapangan bukan revolusi Islam, tapi terorisme dan revolusi ala Khawarij.

[6] Mudah menvonis seorang muslim sebagai orang kafir atau murtad tanpa dalil dan ilmu.

[7] Sungguh aneh bin ajaib, seorang sarjana ekonomi dijadikan rujukan dalam agama. Sedangkan ulama Ahlussunnah yang darah dan daging mereka telah bersatu dengan ilmu dan sunnah ditinggalkan bahkan dicaci maki tanpa takut siksa Allah azza wa jalla. Apakah ini yang telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Diantara tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari orang yang jahil.” [HR. Abdullah bin Mubarok dalam kitab az-Zuhud hal.20-21. Lihat Shahih Jami’ ash-Shagir 2/243 oleh Syaikh al-Albani]

[8] Lihat kembali adz-Dzakiirah sebelum ini (edisi 59) tentang pengkafiran Sayyid Quthub terhadap kaum muslimin secara keseluruhan dan pengakuan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin tentangnya.

[9] Aqidah dan pendidikan ala Khawarij

[10] Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Apabila anda melihat sekelompok orang menyembunyikan urusan agama mereka dari manusia (gerakan bawah tanah), maka ketahuilah bahwa mereka di atas kesesatan.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam  kitab az-Zuhd hal.48 dan ad-Darimi dalam Sunannya 1/91]

[11] Akan disebutkan definisinya pada halaman-halaman berikutnya

[12]  Inilah kelompok yang merupakan cikal bakal munculnya terorisme di dunia modern ini dengan nama jihad. Oleh karena itu, pernah didapati slogan-slogan Ikhwanul Muslimin dalam sebuah rumah yang pernah dihuni oleh salah satu pelaku terrorisme yang membantu peledakan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.

[13] Inilah jasa Sayyid Quthub bagi Islam dan umat?! Jawablah, wahai Pak Kyai Jaidi dan Sabili..!!!

[14] Tujuan jihad dalam Islam adalah untuk menegakkan kalimat Allah bukan membuat terorisme dan kekacauan di Negara kaum muslimin atau selainnya.

[15] Semuanya disandarkan kepada Islam, padahal Islam berlepas diri darinya.

[16] Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan muncul sekelompok manusia di akhir zaman, mereka masih muda belia dan bodoh (tentang agama). Mereka membaca al Qur’an yang merupakan sebaik-baik ucapan, namun iman mereka tidak sampai ke kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya.” [HR.Bukhari]

[17] Ulama Ahlussunnah membagi tauhid menjadi tiga: 1- Tauhid Rububiyah yaitu menyakini bahwa Allah satu-satunya dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta. 2- Tauhid Uluhiyah yaitu menyakini bahwa Allah-lah satu-satunya sesembahan yang haq. 3- Tauhid Asma’ wa Sifat yaitu menyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang mulia sebagaimana yang dicantumkan dalam al-Qur’an maupun hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Dan tidak ada seorang pun dari ulama ahlussunnah uyang menambahkan tauhid hakimiyah dalam pembagian ini. Lihat pembahasan ini dalam adz-Dzakiirah edisi 16.

[18] Allah berfirman tentang inti dakwah para Rasul (yaitu Tauhid Uluhiyah): “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.” [QS.an-Nahl:36]. Lihat pula QS.al-A’raf:59, 65, 73 & al-Anbiya:25

[19] Dan inilah yang terjadi, sekelompok pemuda dengan semangat yang membara untuk menegakkan Islam dengan Jihad, namun mereka tidak tahu hukum/syariat Allah dalam jihad. Apa itu jihad, macam-macam jihad, syarat-syarat jihad, siapa yang berhak dibunuh dan yang tidak berhak dan lain sebagainya.

[20] Takfiriyin adalah kelompok yang hobi mengobral vonis kafir kepada kaum muslimin. Quthubiyyin adalah fans berat Sayyid Quthub. Harakiyyin adalah kelompok harakah/pergerakan yang fanatic kepada kelompoknya.

[21] Lihat kembali perincian masalah ini dalam edisi-edisi bantahan adz-Dzakiirah terhadap para pewaris pemikiran khawarij seperti edisi 22, 23, 32, 42 dan 58.

[22] Hambal rahimahullah pernah berkata: “Para fuqoha’ Baghdad berkumpul pada zaman Watsiq kepada Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal rahimahullah) dan mereka berkata kepada beliau: Sesungguhnya ucapan bahwa al-Qur’an adalah makhluk telah menyebar dan membesar. Dan kita tidak rela dengan kekuasaan dan kepemimpinannya. Imam Ahmad pun kemudian menasehati mereka seraya berkata: “Yang wajib bagi kalian adalah mengingkari dengan hati-hati kalian dan janganlah kalian memberontak serta memecah belah barisan kaum muslimin. Jangan kalian menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin! Lihatlah akibat semua yang akan kalian lakukan dan bersabarlah hingga orang yang baik menjadi tentram dan yang fajir dibinasakan.

Beliau juga berkata: “Melakukan pemberontakan bukanlah suatu hal yang benar bahkan hal itu menyelisihi atsar”. [al-Adabusy Syar’iyah, 1/137 oleh Ibnu Muflih]

Imam Ahmad rahimahullah juga berkata: “Wajib bagi kita mendengar dan taat kepada para penguasa kaum muslimin yang baik maupun yang zhalim…berjihad bersama para penguasa yang baik maupun yang zhalim sampai hari kiamat…Barangsiapa yang memberontak penguasa kaum muslimin, yang manusia bersatu dibawah benderanya dan mereka menyetujui akan kekholifahannya baik dengan ridho maupun penaklukan maka orang Khawarij ini telah memecah belah persatuan kaum muslimin dan telah menyelisihi atsar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika rang Khawarij/pemberontak ini mati maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. Diharamkan bagi siapapun juga memberontak dan memerangi penguasa. Barangsiapa yang melakukan pemberontakan maka dia adalah seorang mubtadi’/ahli bid’ah bukan di atas sunnah.” [Ushul as-Sunnah oleh Imam Ahmad atau Syarhu I’tidhol Ahli Sunnah wal Jama’ah 1/180-181 oleh al-Lalikai]

Oleh: Abdurrahaman Thayyib

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: